Geger Emas Ilegal di Kalbar: Inisial AS Diseret, Ternyata Hoaks Bermuatan Pemerasan hingga Rp7 Miliar
April 04, 2025
RedMOL.id, Kalbar - kembali dihebohkan dengan tudingan liar soal bisnis emas ilegal. Sosok berinisial AS yang disebut-sebut sebagai 'raja baru tambang emas' ternyata justru menjadi korban hoaks dan dugaan pemerasan berkedok pemberitaan investigatif.
Dua video viral yang diunggah di platform TikTok oleh akun FaktaKalbar.id dan Info Ketapang belakangan menjadi perbincangan hangat. Konten-konten itu menuduh AS sebagai dalang baru di balik jaringan emas ilegal di Kalbar, menggantikan figur lama yang disebut telah tumbang. Tuduhan tersebut menyertakan narasi bombastis: perputaran dana harian hingga Rp5 miliar dan pemindahan hampir 400 kg emas ilegal ke tempat rahasia.
Dalam video berjudul “Runtuhnya Kerajaan Bisnis Siman Bahar, Muncul Raja Baru Inisial AS di Kalbar”, akun FaktaKalbar.id menyebut AS telah mengambil alih kendali penuh atas jaringan tambang emas ilegal. Sementara akun Info Ketapang meramaikan tudingan dengan menyebut bahwa AS diduga telah memindahkan simpanan emas bernilai fantastis ke lokasi tersembunyi untuk menghindari aparat.
Namun klaim-klaim ini langsung dibantah tegas oleh sumber terpercaya yang mengetahui langsung latar belakang AS.
“Itu semua tidak benar. AS tidak pernah terlibat dalam kegiatan tambang emas, apalagi yang sifatnya ilegal. Tidak ada aliran dana Rp5 miliar per hari, dan tidak ada kepemilikan emas ratusan kilogram. Ini murni tuduhan tanpa dasar,” tegas sang sumber.
Tak hanya itu, sumber tersebut juga mengungkap dugaan motif tersembunyi di balik viralnya isu ini. Ia menyebut, ada indikasi kuat bahwa AS tengah menjadi target pemerasan oleh oknum yang diduga terafiliasi dengan pihak pembuat konten.
“Kami mengendus adanya permintaan uang antara Rp5 hingga Rp7 miliar. Mereka menyebarkan narasi palsu ini untuk menciptakan tekanan publik, seolah-olah AS adalah penjahat besar. Padahal, ini bentuk pemerasan berkedok jurnalistik,” ungkapnya.
Lebih jauh, sumber tersebut menyebut bahwa narasi dalam video disusun secara sistematis agar terlihat kredibel, dengan gaya seolah-olah investigatif namun tanpa satu pun bukti hukum yang sah.
“Nama baik seseorang dicemarkan demi kepentingan ekonomi. Ini bukan sekadar hoaks, tapi manipulasi informasi yang berbahaya,” tambahnya.
Seruan untuk Bijak Bermedia Sosial
Di tengah gempuran konten viral, publik diminta untuk tidak mudah termakan isu-isu yang belum terverifikasi. Masyarakat Kalimantan Barat diimbau tetap tenang dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang.
“Kalau memang ada pelanggaran hukum, tentu aparat punya jalur dan mekanisme resmi. Bukan lewat konten sepihak yang isinya fitnah,” kata sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kepolisian terkait isi konten video maupun proses hukum terhadap penyebar berita bohong tersebut. Begitu pula dengan pemilik akun TikTok yang belum memberikan klarifikasi.
Namun satu hal yang jelas, kasus ini menjadi cerminan bagaimana media sosial bisa menjadi alat pemerasan yang licik bila digunakan tanpa tanggung jawab. Nama baik, reputasi, bahkan keamanan seseorang bisa jadi taruhan atas konten yang belum tentu benar.
Akhir Kata
Di era digital ini, narasi bisa dibentuk siapa saja, dan kebenaran bisa kabur di balik sensasi. Publik diimbau untuk menjadi pengguna media yang kritis, cerdas, dan tidak mudah tersulut isu—terlebih jika konten tersebut menyeret nama seseorang tanpa bukti konkret.[Tim Red]